Sebut saja Mawar, gadis yang tidak pernah tahu arti berbagi. Ia tidak pernah mau membagi kepunyaannya kepada orang lain. Bahkan meminjamkannya saja ia tak mau. Suatu saat, Melati teman sebangkunya berniat untuk meminjam tip ex kepadanya. Dengan ketus Mawar menjawab, “Ih ga modal amat sih, dikit-dikit minjem. Tip ex gue bisa abis nih. Pinjem aja tuh sama Puspa!”. Mawar melanjutkan mencatat pelajaran tanpa menghiraukan Melati yang hampir menangis dibuatnya. Suatu ketika, Mawar panik saat akan mengerjakan ujian sekolah. Dia lupa membawa tempat pensil. Sialnya kebetulan koperasi sekolah tutup karena penjaga koperasi sakit. Sebenarnya dia merasa gengsi kalau harus meminjam pulpen pada Melati, apalagi Mawar tidak pernah mau meminjamkan barang pada Melati. Tapi mau bagaimana lagi, demi bisa mengikuti ujian, ia pun membuang gengsinya. “Mel, tempat pensil gue ketinggalan, gue boleh pinjem pulpen ga?”, tanya Mawar dengan berat hati. Melati tersenyum “Boleh. Nih, pilih aja yang kamu mau”, ujar Melati seraya menyodorkan tempat pensilnya pada Mawar. Dalam hati Mawar merasa kerdil. Senyum tulus Melati melucuti dirinya. Ia selalu pelit pada Melati tapi temannya itu tidak sedikit pun membalasnya. Cerita tersebut hanyalah ilustrasi yang saya buat. Sebagai manusia, tentunya kita pernah disakiti oleh orang lain baik sengaja maupun tidak. Haruskah kita membalas perbuatan orang yang telah menyakiti perasaan kita?

Credit to samn0body.wordpress.com
Menurut peneliti dari Universitas Zurich, Jerman bernama Ernst Fehr, pada area otak manusia yang bernama dorsal striatum, yaitu bagian yang bertanggungjawab untuk perasaan nikmat terdapat reaksi emosional schadenfreude (rasa puas yang dirasakan ketika orang lain menerima kemalangan). Bagian itu teraktivasi ketika kita merencanakan sesuatu untuk membalas dendam kepada orang lain. Itu sebabnya kita merasa butuh untuk membalas dendam, yaitu agar dapat mengalihkan perasaan buruk kita kepada orang lain. Semakin detil plot pembalasan yang kita buat, semakin banyak aliran darah yang mengalir ke dorsal striatum, akibatnya semakin besar antisipasi kenikmatan yang dirasakan. Berarti istilah revenge is sweet (balas dendam itu manis) itu benar ya?
Dalam kelanjutan penelitiannya, Ernst menemukan bahwa aliran darah pada bagian otak bisa berkurang ketika kita diingatkan pada konsekuensi, biaya atau resiko yang terjadi bila rencana balas dendam benar-benar dilaksanakan. Kenikmatan balas dendam hanya ada pada tahap perencanaan dan antisipasi. Jika kemudian benar-benar dilakukan, rasa nikmat itu segera tergantikan dengan banyak sekali perasaan-perasaan negatif. Daniel Gilbert dari Universitas Harvard, AS menegaskan hal tersebut, “Actually inflicting revenge on someone who has wronged us leaves us feeling anything but pleasure.”. Sebuah buku penelitian yang berjudul The Paradoxical Consequences of Revenge menyatakan bahwa orang yang berharap bisa puas karena balas dendam justru mendapat ketidakpuasan yang berkepanjangan. Hal itu disebabkan karena ketika orang sudah membalas dendam, ia cenderung akan terus memikirkan dan mengingat orang yang telah menyakitinya. Sementara orang yang tidak membalas dendam cenderung melanjutkan hidupnya dan tidak memusingkan orang yang menyakitinya. Menurut seorang psikolog sosial, Kevin Carlsmith dari Universitas Colgate, AS tujuan balas dendam adalah demi menyeimbangkan keadaan dan merasakan kepuasan, namun anehnya jika dilakukan malah menciptakan efek berkebalikan. Dia menganjurkan untuk tidak balas dendam karena hanya akan menyakiti diri kita sendiri. Sedangkan menurut Dr. S.I. McMillan, balas dendam juga membuat diri kita rentan terhadap penyakit seperti serangan jantung dan tekanan darah tinggi.
Dari beberapa penelitian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kenikmatan balas dendam hanya bersifat sementara dan hanya dirasakan pada tahap perencanaan balas dendam tersebut. Selain itu, aksi balas dendam hanya akan membawa kerugian pada orang yang melakukannya. Balas dendam tidak akan mencipakan kepositifan justru hanya akan memperburuk keadaaan. Aksi balas dendam hanya akan membuat kita berada di level yang sama dengan orang yang telah menyakiti kita atau bahkan lebih rendah. Bila orang menyakiti kita, dia menang; dan ketika kita balas dendam, dia menang untuk kedua kalinya. Berpikirlah dengan kepala dingin bukan dengan hati yang panas, maka dengan begitu kita tahu bagaimana bertindak. Seharusnya, kita berada pada level di atas orang yang telah menyakiti kita. Tunjukkanlah pada orang itu betapa kita bisa ikhlas dan memaafkan tindakannya. Balaslah kejahatannya dengan kebaikan yang kita miliki, seperti apa yang dilakukan Melati pada Mawar. Itulah apa yang disebut sweet revenge.
*Sumber: lex.hitmansystem.com
memaafkan adalah balas dendam yang paling manis
Posted by mahendra | February 8, 2011, 3:24 pmI was inspired by you, but forget that good sentence
Posted by Sya | February 8, 2011, 5:15 pmhmm….balas dendam yak?! itu mbak aku orangnya pendendam..meski lama masih suka inget salah orang. hiks..hikss! anyway thanks udah mampir ke blog sy (*_^)
Posted by ririn | February 8, 2011, 3:30 pmNah kan udah tahu kalau balas dendam itu ga baik
Saya juga masih berusaha untuk memaafkan sih. Sama-sama belajar ya
Posted by Sya | February 8, 2011, 5:13 pmpost yang bagus, sayang font-nya terlalu kecil.
Posted by M A Vip | February 8, 2011, 3:50 pmMa kasih. Oh kecil ya, ntar coba tak gedein, tapi ga tau caranya
Posted by Sya | February 8, 2011, 5:11 pmilustrasinya kayak salah satu pertanyaan di kuesioner ttg moral yg pernah saya buat.
balas dendam itu ga perlu. bener tuh di dua kalimat terakhirnya, balaslah kejahatan dengan kebaikan, syukur2 orang yg berbuat jahat itu jadi malu gara2 kita berbuat baik kpd dia
Posted by jasmineamira | February 8, 2011, 7:32 pmNah itu dia yang dinamakan sweet revenge. Tanpa perlu membalas, dia udah malu sendiri.
Posted by Sya | February 9, 2011, 2:13 pmSebuah sikap yang mulia, selalu berbuatlah yang baik, Sahabat..
Posted by giewahyudi | February 8, 2011, 8:46 pmBenar sahabat *ikut-ikutan Mas Gie
Posted by Sya | February 9, 2011, 2:05 pmSahabatnya Mario Tegar ya?
Posted by giewahyudi | February 10, 2011, 5:03 amAh Mas Gie kok tahu sih?
Posted by Sya | February 11, 2011, 12:37 pmbalas dendam hanya menimbulkan dendam yang lain
Posted by andinoeg | February 8, 2011, 11:45 pmBenar Andi. Jadinya main balas-balasan deh. Lebih baik kita berbalas pantun
Posted by Sya | February 9, 2011, 1:57 pmaiiiihh… sya, berasa di tegor deh pas baca postingan mu ini.
aku lagi (ngerasa) di jahatin orang
(istilah yang aku pake ABG banget ya?)
selama ini aku sibuk mikirin : enak nya di apain yah orang itu?
hehehhehe.. tapi aku di ingatkan di sini, membalas dengan manis pasti akan lebih indah dampak nya
thanks sya..
Posted by ais ariani | February 8, 2011, 11:52 pmKan kamu suka lupa sama umur, jadi masih kebawa ABG-nya, hahaha. Kita kan samaan ya
Susah emang sih untuk ga balas ke orang itu. Saya pun masih belajar
Posted by Sya | February 9, 2011, 1:06 pmRevenge is basically sweet…
But it is not if we understand that apologizing is truly sweet
Kita sering mendengar orang yang mengatakan:
“Saya tidak pendendam, hanya saja saya susah melupakan kejahatan orang lain pada saya”
So, what about that statement…?
Posted by yoriyuliandra | February 9, 2011, 12:31 amtapi kalo sweet revenge gpapalah…
yang penting aura revenge nya ada *apasih*
Posted by yoriyuliandra | February 9, 2011, 12:38 amKalau masih ingat tapi sudah memaafkan dan ga ada niat buat balas dendam sih ga apa-apa. Mungkin ingata orang itu tajam :mgrgreen: Nah kalo sweet revenge itu adalah memaafkan & membalas dengas kebaikan.
Posted by Sya | February 9, 2011, 12:56 pmcurahan hati kayanya hahahahha mudah2an kegiatan menulisnya makin lancar aja
Posted by marthinsaur | February 9, 2011, 12:40 pmsaya selalu mengingat kebaikan orang ke saya, begitu juga kejahatannya..
Posted by TUKANG CoLoNG | February 9, 2011, 1:51 pmJadi seimbang ya Madi. Asal jangan dibalas juga kejahatannya ya
Posted by Sya | February 9, 2011, 2:28 pmoh pastinyaaa..
Posted by TUKANG CoLoNG | February 9, 2011, 9:38 pmNdak paham sama pelitiannya, pahamnya malah dengan ilustrasi. Sangat menarik
Posted by Adi | February 9, 2011, 2:33 pmDendam ya…waduh kalau ane sech ska bgt bls dendam…misalnya saja ada org berkunjung k blog saya maka maka saya akan mengunjungi blog nya pula…hehehe
Gak nyambung ya
Posted by Gaptek_ancorez | February 9, 2011, 2:55 pmkalau balas dendam itu menyenangkan saat merencanainnya mending dimimpiin aja yak,
tapi kalau dilaksanakan gak usah, jadi udah puas pas mimpi
tetap membalas kesinisan dengan senyuman lebih menyenangkan yak
Posted by niee | February 9, 2011, 3:23 pmwah, aku suka melati, ehh ilustrasi melati & mawarnya, tapi jarang sih org yang kya melati gtu, yang ada karena teman kita pelit kita jadi pelitin dia juga ya….(*mayoritas)
Posted by Yan'shu | February 9, 2011, 3:28 pmya allah semoga saya ga akan menjadi mawar akh hehehe
tapi sebenrnya emang seh rasa balas dendam itu pasti melekat dalam diri kita,,ya giman kita memanage nya seh,,,jgn sampe perasaan keji itu memenangkannya :p
Posted by Anugrha13 | February 9, 2011, 4:35 pmso sweettttt gan
Posted by ravaelz | February 9, 2011, 7:53 pmsalah banget kalo ada yg bilang balas dendam itu manis..
lebih manis kalo kejahatan itu dibalas dengan kebaikan ya sya..
Posted by fitrimelinda | February 9, 2011, 8:21 pmIya Fit
Posted by Sya | February 11, 2011, 1:16 pmkalau jengkel dengan orang yg telah menyakiti itu pernah saya mbak, tp alhamdulilah ga sampai kepikiran untuk balas dendam…
Posted by wien | February 9, 2011, 8:56 pmKalau jengkel saya juga pernah, Alhamdulillah Mas Wien masih bisa menahan amarah ya
Posted by Sya | February 11, 2011, 12:48 pmga ada untungnya samasekali balas dendam itu ya,
Posted by langit | February 9, 2011, 9:00 pmya … memaafkan lebih gampang dari pada meminta maaf, maka gak usah menyakiti yuaaa, coz kita akan didera rasa bersalah sepanjang waktu ..
salam
Posted by fitr4y | February 9, 2011, 9:30 pmLebih baik memang memaafkan meskipun itu lebih sulit daripada balas dendam
Posted by Sya | February 11, 2011, 12:37 pmmembalas itu wewenang dilakukan atau tidak. Tapi konsekuensi setelah melakukan membalas akan terus membekas. Oleh karena itu memaafkan akan menjadi lebih baik daripada membalas
Posted by mandor tempe | February 10, 2011, 9:44 amBenar Mas Mandor
Posted by Sya | February 11, 2011, 12:01 pmMelati hebat ya bisa memperlakukan Mawar dengan kebalikannya
kalo aku mungkin bisa revenge tuh Sya hehe
Posted by gerhanacoklat | February 10, 2011, 4:04 pmIya hebat, saya pengen bisa kayak Melati
Posted by Sya | February 11, 2011, 11:50 amTerkadang membalas bukan bermaksud membalas dendam,,, tetapi juga bisa memberikan sebuah pelajaran yang berarti….
Posted by Blog Keluarga | February 10, 2011, 4:38 pmEntah itu apa maksudnya, tapi orang yang diberi pelajaran belum tentu mengerti maksud kita. enurut saya lebih baik beri pelajaran dengan cara yang manis.
Posted by Sya | February 11, 2011, 11:50 ammemaafkan itu balas dendam yg paling manis, tapi kadang-kadang juga paling susah
Posted by evillya | February 10, 2011, 4:49 pmKadang prakteknya emang suka gitu Vi
Posted by Sya | February 11, 2011, 11:43 amwew…penjelasannya keren yah…ternyata balasa dendam ituh manisnya cuma diperencanaan. Dan makin pahit ketika sudah dilaksanakan beneran…keren abis deh…
Posted by bukan detikcom | February 11, 2011, 12:18 amYup benar, karena cuma akan timbulkan balas-membalas saja.
Posted by Sya | February 11, 2011, 11:34 amDi sebuah skenario film saya pernah membaca teks yang seperti ini. “Dua hal yang bisa merubah dunia, cinta sejati dan dendam yang membara” Yah, semoga kita lebih memilih yang pertama, cinta sejati.
Posted by Masbro | February 11, 2011, 1:47 amKayaknya itu juga menjad tema dalam persinetronan ya Mas
Posted by Sya | February 11, 2011, 11:29 amkadang balas dendam yang di balas dengan kebaikan justru jarang di lakukan oleh orang kebanyakan. selain terkadang belum tentu menimbulkan efek jera kepada orang tersebut. malah bisa jadi keenakan hehe
Posted by andi sakab | February 11, 2011, 7:40 amTapi menurut saya itu yang ampuh, kalau dia malu & tersentil, tentu dia akan menyadari kesalahannya. Tapi mungkin berlaku untuk orang yang bernurani.
Posted by Sya | February 11, 2011, 11:25 ammudah-mudahan kalo di tambah doa kayaknya bisa
Posted by andi sakab | February 15, 2011, 3:55 pmWah aku sampe terbengong2 membaca. keren banget ulasannya. boleh yah, kuambil intisarinya, terus diceritakan dengan gaya bahasaku di blogku? kucantumin referensinya sekalian nanti.
Posted by Setiawan | February 27, 2011, 1:07 pmSilahkan
Posted by Sya | February 28, 2011, 3:24 pmhahaha sejatinya sih begitu apalagi kalau kita pernah disakiti..perasaan di dalam hati tu pengennya balas dendam biar orang tersebut juga merasakan sakit yang kita rasakan
tapi saya yakin kepuasan itu hanya sesat pasti g tega lah kalau kita masih punya nurani mah untuk melihat orang lain juga kesakitan ^^
Posted by kang ian dot com | May 16, 2011, 4:25 pmBenar kepuasan hanya sesaat. Bila balas dendam dilakukan yang ada nanti orang itu balik balas lagi, eh malah jadi balas-balasan deh
Posted by Sya | May 16, 2011, 4:44 pmwah, ini kayaknya artikel mengetuk jiwaku banget ini hehe..
keren artikelnya, abis baca ini jadi malu sendiri sumpah
Posted by Toko online tas | November 3, 2012, 9:14 am